Bagaimana Guru Seharusnya?
Pendidikan di Indonesia dibangun melalui dasar pondasi filosofis yang dirumuskan oleh KH Dewantara. Salah satu gagasan beliau yang menginspirasi pemikiran saya sebagai guru adalah adalah bahwa setiap anak lahir dengan keunikan dan potensinya masing-masing.
Peserta didik sama ibaratnya seperti benih padi yang hanya dapat diupayakan tumbuh subur selayaknya padi, tidak untuk tumbuh menjadi gandum, pala, sawit, ataupun lainnya. Sama halnya dengan tugas guru, hanya mampu mengupayakan segala kebutuhan belajar peserta didik dengan mengarahkan serta membimbing segala potensi lahir batin yang dimiliki oleh peserta didik itu agar tumbuh subur sebagaimana kodrat “benih padi menghasilkan padi yang baik”. Proses pembelajaran dan susana kelas yang sesuai dengan pemikiran KH Dewantara menitikberatkan pada kemerdekaan belajar melalui pendekatan yang bersifat Student Centered Learning, dimana peserta didik tidak menjadi “kertas kosong” yang akan diisi dan ditulis oleh guru, melainkan peserta didik sendirilah yang seharusnya mencari, menemukan dan membangun pemahaman mereka sendiri dengan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran.
Pemikiran beliau menjadi jembatan yang membuka paradigma baru makna guru bagi saya, bahwa sebelumnya saya menganggap guru yang jago adalah guru yang bisa menguasai materi sebanyak-banyaknya kemudian menyampaikannya kepada peserta didik di dalam kelas, sebelumnya saya menganggap mengajar dengan metode berceramah full dan menjelaskan semua materi dengan lancar dengan membayangkan diri seolah sebagai pakar ilmu dan satu-satunya sumber informasi sudah cukup menjadikan saya sebagai guru yang ideal. Namun setelah merefleksi kembali pengalaman mengajar selama ini, saya menyadari bahwa yang dibutuhkan oleh peserta didik tidak hanya guru yang jago menyampaikan materi saja tetapi juga mampu memfasilitasi mereka untuk terlibat, yaitu menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran.
Maka sebagai upaya untuk mewujudkan pemikiran filosofis KH Dewantara saya mulai berani untuk mencoba dan memembiasakan menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang lebih fokus pada aktivitas belajar peserta didik seperti berdiskusi (tanya jawab), kolaborasi (kerja kelompok), literasi (mencari dan menemukan literatur) dan refleksi (presentasi) pada peserta didik. Selain itu untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik saya juga dapat menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang memadai, misalnya vidio pembelajaran, poster, games dan sejenisnya yang disesuiakan dengan kondisi dan kebutuhan belajar.
Pada awal penerapan strategi pembelajaran yang baru ini saya merasa canggung dan kurang nyaman karena masih terbawa kebiasaan mengajar dengan metode ceramah di sekolah sebelumnya, namun setelah beberapa kali pelaksanaan pembelajaran melalui bimbingan dari guru lainnya serta sharing pengalaman bersama rekan sejawat, perlahan saya mulai belajar dan terbiasa untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan sintaks yang ada.
Selama proses pembelajaran dengan startegi pembelajaran baru yang saya coba terapkan, saya berkesimpulan bahwa peserta didik akan jauh lebih tertarik dengan pembelajaran yang dikontekstualkan dengan kehidupan sehari-hari mereka, mengemas penyampaian materi dengan pembawaan yang ceria dan lebih banyak memberikan peserta didik kesempatan untuk secara mandiri mengumpulkan informasi, berbicara dan menyampaikan pendapatnya, sedang pendidik sebagai fasilitator yang mendukung dan memberikan tuntunan dalam proses belajarnya.
Selama melakukakan upaya perubahan pada pembelajaran, perlahan saya menerima respon positif yang muncul dari pengalaman peserta didik dalam belajar. Ada rasa bahagia dan ketertarikan untuk belajar, hal ini terlihat dari antusiasme dan keinginan peserta didik untuk mengikuti setiap tahapan pembelajaran yang diberikan serta saling bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Comments
Post a Comment