Nanti Jadi Apa?

Setelah menempuh kuliah, akhirnya saya bisa lulus dan menjadi seorang sarjana pendidikan. Empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar, walaupun tetap saja rasanya seperti baru kemarin saya masuk kuliah. Di masa-masa sekarang ini rasanya jadi sedikit berbeda, setiap kali saya melihat teman-teman mahasiswa yang sedang sibuk dengan kuliahnya, seringkali muncul perasaan campur aduk mengingat bahwa saya juga pernah ada di posisi itu.

Kalau kuingat-ingat lagi, dulu di sela-sela istirahat kuliah, saat sedang sendiri beberapa kali di benak ini muncul pertanyaan. Capek-capek kuliah itu cari apa sih? Mungkin jawaban paling umum yah untuk mendapat ilmu, atau mungkin untuk mencari pengalaman, mengejar pekerjaan impian, menambah gelar di belakang nama, mendalami minat, dan masih banyak lagi. Tapi apapun itu alasannya, kupikir hampir semua orang akan sependapat bahwa ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari kuliahnya, dapat nilai A di setiap mata kuliah, lulus cumlaude atau bahkan menjadi lulusan terbaik. Namun tetap bisa bersantai. Yah santai, itu kata kunci yang diidam-idamkankan oleh mereka yang sedang menjalani kuliah, apalagi bagi mereka yang sudah memasuki semester akhir. Tapi apalah mau dikata, kadang-kadang kuliah itu tidak seasyik yang dibayangkan.

Rutinitas berulang: jadwal kuliah yang padat, tugas matkul membabi buta, tugas mandiri, tugas proyek, tugas kelompok, belum lagi jadwal praktikum, dengan tugas TP, respon TP dan laporan praktikumnya yang mendzholimi, akhirnya jadi jarang mandi, kurang tidur, kurang fokus, kurang makan, kurang uang, mampus. Kalau sudah begitu mending jauh-jauh deh jangan cari perkara, karena biasanya kebanyakan dari mereka sudah dalam MODE SENGGOL-BACOK IS ON. Jangankan diajak bercanda, dengar suara napas orang di sebelahnya saja bisa sampai mengamuk. Belum lagi yang sudah frustasi karena tugas-tugas, biasanya akan banyak bermunculan kata-kata legendaris seperti, “yang penting tidak mengulang”, “yang penting bisa lulus”, atau yang paling epic “capek kuliah ya Allah, mau nikah saja”. Jadi yah jangan dibayangkan seindah dan sesantai di film-film FTV.

Akan tetapi meskipun begitu, di saat yang bersamaan masa-masa kuliah juga menjadi salah satu momen hidup yang menyenangkan. Banyak hal yang bisa disyukuri selama itu, alhamdulillah bisa merasakan secara langsung susah dan senangnya dunia perkuliahan, senang bisa bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai daerah, berbeda latar belakang, kebiasaan, bahasa, dan sudut pandang, kemudian saling mengenal hingga berbaur bersama dengan lingkungan dan suasana di kota perantauan selama kuliah.

Pada akhirnya lulus kuliah itu menjadi sesuatu yang dilematis. Berhasil melewati perkuliahan dan menjadi sarjana tentu saja adalah sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan, namun di saat yang bersamaan juga menjadi sesuatu yang menyedihkan. Berpisah dengan teman-teman, cerita dan suasana selama masih berkuliah. Perpisahan selalu menjadi sesuatu yang berat, tetapi berpisah dengan teman-teman kuliah ada di level yang berbeda, sebab entah alasan apalagi yang bisa waktu berikan untuk mempertemukan kita semua yang alamat rumah dan kampung halamannya berbeda-beda. Selain itu, lulus kuliah juga menjadi awal untuk memulai “kehidupan yang sebenarnya”. Kita tidak pernah tahu akan jadi seperti apa kita setelah lulus kuliah, tapi yang pasti pelajaran akan selalu berlanjut. Belajar untuk mandiri dan mengambil tanggung yang sebenarnya.

Jadi apapun itu yang akan kita lalui setelahnya, semoga keberkahan dan kemudahan selalu diberikan terhadap apa saja yang sedang dan akan kita perjuangkan. kawan-kawanku. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Masa Depan Absurd?

Selayang Pandang