Kerja Jadi Guru
Alhamdulillah setelah lulus dari perkuliahan saat ini saya
bekerja sebagai guru di salah satu sekolah Islam Terpadu (IT) tingkat SMP di Kota Makassar. selama bekerja saya menyadari bahwa ada beberapa hal
baru yang harus saya pelajari dan tingkatkan untuk menunjang profesi saya
sebagai guru di sekolah tersebut, yaitu terkait materi yang akan saya ajarkan
dan perilaku peserta didik saya di sekolah ini.
Yang pertama terkait materi yang akan saya ajarkan, disekolah
ini saya bertugas sebagai guru IPA, walaupun IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) adalah
pokok dari ilmu Biologi sebagai Basic saya, tetapi untuk bisa mengajarkan IPA
dengan baik saya juga harus belajar tentang materi Kimia dan fisika dasar,
apalagi di semester ini karena sekolah saya sedang kekurangan guru maka
akhirnya saya juga diamanahkan untuk mengajarkan materi IPS dan PKN di kelas 8.
Tidak sampai disitu beberapa pekan yang lalu saya di panggil oleh pihak Yayasan
untuk mengajar materi Biologi dan Fisika di tingkat SMA. Itu artinya saya harus
bisa menguasai 5 mata pelajaran untuk saya ajarkan. Maka untuk bisa menguasai
dan mengajarkan materi pelajaran yang dalam tanda kutip “baru” bagi saya maka
cara-cara yang saya lakukan adalah:
Pertama mencari referensi belajar, baik dari internet yang saya download maupun dari buku paket yang saya pinjam di perpustakaan sekolah maupun saya beli secara langsung. Kemudian saya juga berkonsultasi dengan teman-teman guru yang juga mengajarkan materi yang sama. Kemudian agar lebih paham biasanya saya menonton penjelasan materinya dari beberapa youtube. Nah semua referensi yang saya kumpulkan tadi kemudian saya tulis tangan dan susun menjadi semacam jurnal belajar berisi rangkuman materi, fakta-fakta unik, dan contoh-contoh soal yang bisa saya pahami dan ajarkan ke peserta didik.
Ada kendala selama mengajar?
Karakter peserta didik saya khususnya di tingkat SMP, saya melihat bahwa mereka cenderung masih senang bermain, banyak bergerak, bahkan sampai mengganggu teman-temannya Ketika sedang belajar, apalagi di sekolah ini saya ditugaskan untuk mengajar di kelas ikhwah (khusus laki-laki) yang berjumlah antara 30-34 orang peserta didik dalam satu kelas, jadi kira-kira bisa dibayangkan betapa “rame” nya di dalam kelas Ketika belajar. Selain itu barangkali karena latar belakang keluarga dan ekonomi yang berbeda di kota besar seperti Makassar, kejadian saling ejek, berkata-kata kasar, sampai berkelahi kadang-kadang masih saya temui di sekolah. Sebagai guru baru tentunya bagi saya ini adalah sebuah tantangan untuk tidak hanya fokus pada akademik saja tetapi juga bagaimana untuk mengembangkan karakter atau perilaku peserta didik saya menjadi lebih baik.
Maka cara yang saya lakukan adalah, untuk mengordinir
pembelajaran biasanya saya mencoba menerapkan model-model pembelajaran yang
didalamnya ada kegiatan praktik, diskusi ataupun tanya jawab. seperti contohnya
saya pernah mencoba menerapkan pembelajaran di luar kelas mengajar peserta
didik saya untuk jelajah alam mencari berbagai jenis morfologi pertulangan daun
di lingkungan sekolah, kemudian di dalam kelas saya pernah mengadakan kegiatan
demonstrasi bagaimana sebuah gelas yang berisi air ditutup dengan kertas dan
dibalik tetapi tidak tumpah sebagai contoh penerapan konsep tekanan zat,
kemudian pernah juga saya mengadakan demonstarasi trik sulap saya katakan
bagaimana sebuah botol yang saya taruh di atas kertas kemudian ditarik dengan
cepat tetapi tidak sampai membuat botol jatuh. Saya jelaskan sebagai penerapan
konsep hukum newton 1. Setelah itu saya ajukan pertanyaan ke peserta didik
kenapa hal itu bisa terjadi, jawaban peserya didik saya bervariasi ada yang
bilang mungkin kalau kertasnya ditarik cepat gaya geseknya tidak besar, ada yg
bilang mungkin karena factor gravitasi, ada yg bilang karna pak gurunya jago
menarik kertas, dll. Dengan begitu peserta didik bisa berfikir dan fokus pada
pembelajaran, sehingga kalaupun mereka rebut tetapi rebut dalam artian yang
baik sebab mereka meributkan pembelajaran bukan meributkan hal yang lain di
luar pembelajaran.
Kemudian untuk menangani peserta didik saya yang sering
bermasalah atau guru-guru saya di sekolah menyebutnya “Dato’nya” merujuk ke
peserta didik yang paling ditakuti sama teman-temannya, biasanya saya melakukan
pendekatan persuasif seperti memberikan perhatian lebih baik saat di kelas
maupun Ketika di luar kelas. Ketika di kelas misalnya saya lebih sering
memberikan kesempatan kepada merka untuk menjawab soal, atau didengarkan
pendapatnya, kemudian di luar kelas kadang-kadang saya panggil dan ajak
cerita-cerita akrab kelau ada uang lebih biasanya saya juga traktir makan atau
minuman sambal saya selipkan nasihat-nasihat seperti, “Kamu ini sebenarnya
anak pintar, baik, orang tuamu bangga, dll.” Sehingga dengan begitu mereka bisa
meng-influence teman-temannya yang lain untuk memahami pentingnaya nila-nilai
kebaikan, seperti contoh sederhanaya akhir-akhir ini Ketika proses pembelajarn
di kelas peserta didik yang dulunya suka menganggu temannya sekarang mereka
yang justru membantu menegur teman-temannya yang rebut ketika saya mengajar.
Pada akhirnya setiap pertemuan adalah pelajaran yang harus dimaknai prosesnya dan direfleksi kembali hasilnya, setiap kejadian adalah tangga-tangga yang menjadikan kita untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.


Comments
Post a Comment