Nasehat yang Sehat

Kata pepatah tak ada gading yang tak retak, begitupun kita manusia tak ada satupun yang sempurna. Kita adalah lumbung kekurangan, tempatnya lupa dan salah. untuk itu kita diharapkan untuk senantiasa saling sehat menasehati. Tapi kalian pernah tidak sih, merasa jengkel setelah dinasehati?

Jika pernah yah tidak apa-apa juga, sebab kenyataannya nasehat tidak selalu sehat. Seperti obat jika tidak sesuai takaran dan peruntukan bukannya menyembuhkan yah malah menambah sengsara, waduh… Sama halnya dengan nasehat yang kita sampaikan, jika tujuan dan caranya tidak tepat bukannya meperbaiki yang ada malah melukai orang lain. Oleh karena itu nasehat yang baik sebaiknya disampaikan dengan cara yang baik pula, dalam koridor akhlak yang baik, serta untuk tujuan kebaikan dan perbaikan. 

Jika demikian, maka memberi nasehat bukanlah suatu persoalan yang mudah sebab harus mempertimbangkan dan memilah beberapa hal sehingga nasehat bisa diterima dengan baik. Memberi nasehat itu kurang lebih seperti sedang bertamu, siapa sih yang yang tidak jengkel kalau pintu rumahnya digedor-gedor, teriak-teriak buka pintu, apalagi belum kenal.. kan kurang aj*rr, hadeuh sabar-sabar. Tentu ada adabnya dong, minimal memberi salam lalu mengetuk pintu, jika tidak dibukakan pintu mungkin waktunya tidak tepat yah sudah besok coba lagi… Begitu juga dengan memberi nasehat, tentu ada adab-adabnya.. apa sajakah? dintaranya seperti, mencari waktu yang tepat, tidak menggurui, tidak memaksakan pendapat, serta disampaikan dengan cara yang baik dan lembut.

Mencari waktu yang tepat, tidak setiap saat orang yang hendak dinasehati itu siap untuk menerima masukan apalagi jika dilakukan di depan umum. Hal ini sama saja merendahkan martabat dan membuka aib kekurangan saudara kita, hmm. Maka dari itu hendaknya nasehat cukup disampaikan secara langsung tanpa diketahui oleh orang lain, itu karena tujuan kita memberi nasihat kepada saudara kita bukan untuk mempermalukannya, tetapi tersampaikannya kebaikan kepadanya agar saudara kita dapat mengetahui kesalahannya dan memperbaiki kekeliruannya tanpa merasa dihakimi dan direndahkan. Oke..

Tidak memaksakan pendapat, kembali lagi dengan analogi pintu rumah, “siapa juga yang senang jika pintu rumahnya digedor-gedor” cukup beri salam, mengetuk dan sampaikan tujuan kita. karena pada dasarnya tugas kita hanyalah menyampaikan bukan memaksanya mengikuti kehendak kita “Seorang pemberi nasehat hanyalah seseorang yang menunjukkan jalan”. Tidak pula menggurui dalam menasehati, kita semua tidak sempurna. Kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, penyampaian saran yang terkesan menggurui sama saja menafikkan bahwa diri kita juga punya kekurangan. berkata-kata yang bijak sebagaimana diri kita ingin diperlakukan hal yang sama.

                                                    

Kemudian menyampaikan nasehat dengan baik dan lemah lembut. Saya jadi teringat salah satu ceramah Ustad Adi Hidayat di Youtube, tentang kisah di dalam Al-Qur’an Ketika Allah swt. memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasehati Firaun dengan perkataan yang lemah lembut.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Q.S. Thahaa: 43-44).

Bisa dibilang bahwa Firaun itu salah satu makhluk paling jahat yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, Ia berbuat banyak kedzoliman, hobinya bunuh orang, bahkan mengaku sebagai tuhan. ngeri ngeri.. tapi apa yang terjadi kemudian? Allah swt. masih memberi kesempatan bertaubat dengan mengirimkan langsung dua orang nabi untuk mendakwahi manusia ini dengan kata-kata yang lembut. nah sekarang coba kita renungkan.. kita ini bukan nabi, kita tidak sesoleh Musa tidak sebaik Harun, dan hanya menasehati seseorang yang tidak sejahat Firaun, lantas kenapa kita bisa lebih kasar?

Semoga postingan ini bermanfaat dan kita bisa belajar bersama-sama untuk jadi lebih baik lagi. Yuk semangat lebih baik!  

 

Comments

Popular posts from this blog

Masa Depan Absurd?

Selayang Pandang

Nanti Jadi Apa?