Kacamata Kelabu

Pernah tidak kita merasa segala hal kelabu, berpikir bahwa kita dinasibkan begitu akrab dengan kegagalan. Seolah dunia sekongkol membuat segala sesuatunya berjalan tidak sesuai rencana, hingga akhirnya setiap harimu berlalu seperti lirik sedih di dalam lagu-lagu patah hati yang berputar tak berkesudahan.


Merasa pesimis, tidak berdaya, tidak berguna, merasa hidp penuh dengan problematika dan sebagainya. Apa jadinya kita jika perasaan dan pikiran semacam ini menggelayut terus menerus? waduh kering. Sekali lagi ingin saya katakan, memang tidak semudah mengucapkannya. Titik. Tapi percayalah ini,  “kita bukan satu-satunya manusia di jagad raya ini yang punya masalah” jadi jangan lebay deh. Lantas apa yang salah?

Terkadang manusia selalu memandang diri terlalu rendah, padahal apa yang dilakukannya mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang banyak diluar sana. Cara kita memandang dunia sangat menentukan tindakan dalam menyelesaikan tantangan yang datang. Bila kita memandang diri kita kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan yang kita ambil pun kecil. Sebaliknya jika kita memandang diri kita besar karena kita diciptakan dalam bentuk yang sebaikbaiknya, maka dunia akan terasa luas  untuk melakukan perkara-perkara yang luar biasa, penting dan berharga, bahkan kegagalan pun mungkin bukanlah kegagalan lagi. Wah.

Tindakan kita adalah cermin bagaimana kita melihat dunia. Sementara dunia kita tidak lebih luas dari pikiran kita tentang siapa kita sesungguhnya.

Entah mengapa Warna hidup memang tergantung dari warna kacamata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, yah segala sesuatunya akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai. Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. We see the world as we are, not as it is.

Oleh karena itu, mari mencoba untuk selalu berpikir positif dalam hidup. Untuk siapa? Untuk orang lain? Yah tentu, tapi itupun tidak akan cukup. Kitapun dituntut untuk berprasangka baik pada diri sendiri. Untuk apa? Agar kita dapat melihat dunia ini lebiih indah dan memandang segala tantangan yang datang adalah karunia sang pencipta agar kita segera naik kelas.

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah, 5-6).

Dunia ini tidak minta penilaian apa-apa dari kita, ia terkadang hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat dan menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia maka sesungguhnya kita sedang takut menghadapi diri kita sendiri. Jujur melihat diri sendiri apa adanya dan duniapun akan menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

Makanya, hati-hati yah dalam mengukur dan menilai diri sendiri serta cara kita memandang dunia. Selalu berpikir positif.

Be Awesome Today.


Comments

Popular posts from this blog

Masa Depan Absurd?

Selayang Pandang

Nanti Jadi Apa?