Bunyi Sembunyi

Tidak percaya diri akan menjadi masalah yang luar biasa menjengkelkan, menghambat kita untuk meraih banyak kesempatan. Termasuk kesempatan untuk tampil berbicara di depan kelas. Belum juga disuruh kedepan lah kitanya sudah tegang duluan.


Ketika semua mata tertuju ke kita, Lutut dan tangan gemetar, sesak napas, keringatan, pucat, tenggorokan berasa kering, lidah jadi kaku. Waduh dalam keadaaan seperti ini kita akhirnya jadi sulit untuk berbicara dengan baik, apakah ini yang dinamakan cinta? bukan yah..
Gejala ini dinamakan Glassophobia, berasal dari bahasa Yunani yaitu “Glossa” yang berarti lidah, dan “Phobos” yang memiliki arti rasa takut atau ketakutan. Jika ditelaah lebih lanjut maka artinya adalah ketakutan terhadap lidah *eh salah.
Umum dikenal sebagai gejala demam panggung, tapi saya sendiri lebih suka menyebutnya kampret moment* bagaimana tidak, karenanya kita terjebak dalam situasi dimana semua konsep ataupun gagasan yang sudah kita siapkan seketika buyar hilang entah kemana, akhirnya kita bertingkah seperti orang tersesat tak tentu arah, pembicaraaan jadi berputar putar. Memalukan hingga akhirnya memilukan, Seisi kelas jadi hening bukan karena terpesona tapi karena prihatin, waduh sedih.
Sudah banyak sekali penelitian yang mengemukakan bahwa betapa pentingnya kemampuan berkomunikasi ini dalam kehidupan, banyak orang orang yang semasa sekolah hingga lulus kuliah dengan nilai akademik yang hebat tapi kemudian hilang entah kemana dalam persaingan dunia kerja. Saya percaya tentu ada banyak faktor, selain tentu saja karna ridho Allah SWT juga bergantung bagaimana usaha kita, semisal kemampuan berkomunikasi yang  baik.
If youre not going to speak up, how is the word supposed to know you exist?
Pada akhirnya, kita dituntut untuk dapat tampil dan berbicara yah. Untuk itu kita ada beberapa cara sederhana yang dapat kita lakukan, yaitu memulai dari halhal yang kecil saja dulu, seperti memulai untuk mengajukan pertanyaan pertanyaan sederhana ketika proses pembelajaran. Misalnya “pak dosen, yang dimaksud dengan A itu apa? atau “Bu guru, yang dimaksud dengan B itu apa?
Ibarat latihan angkat beban, ketika kita sudah terbiasa dengan beban yang ringan, kita mesti mencoba mengangkat beban yang lebih berat agar kemampuan kita mengangkat beban turut meningkat, nah begitupun melatih kepercayaan diri ketika berbicara didepan umum.
Setelah mulai terbiassa dan merasa rileks dengan bertanya halhal yang mudah maka waktunya untuk menantang diri kita dengan mengajukan pertanyaan pertanyaan yang lebih sulit, misalnya “Pak dosen, tadi menjelaskan bahwa C itu begini sedangkan yang kita tahu D itu begini. Mengapa bisa demikian, pak?
Pertanyaan ‘mengapa’ ini tentu tidak semudah pertanyaan ‘apa’ yah, sebab pertanyaan ini memerlukan waktu yang lebih lama untuk memikirkan dan kemudian menyampaikannya.
Terakhir, setelah merasa nyaman dengan menayanyakan pertanyaaan mudah ataupun sulit mulailah untuk seringsering melakukannya, ini agar kita semakin terbiasa dan semakin percaya diri. Mungkin tidak semudah itu, tapi selama kita punya keingan yang kuat percaya deh insyaallah tidak ada yang mustahil.

Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (Ar Ra’d, 13 : 11)
Ikhlas bukanlah pasrah menerima, tapi ikhlas adalah kekuatan besar untuk berusaha agar menjadi lebih baik. Jangan takut untuk mencoba, gagal lebih baik daripada diam. Dalam setiap kegagalan pasti ada kesempatan untuk berhasil, sedangkan dalam diam hanya ada suram.

So, its time to Speak up guys..

Comments

  1. Kak, bagaimana klu pikiran sudah lupa akan gugup dan rasa takut berbicara di depan umum tp ingatan anggota tubuh masih mengiang akan hal itu sehingga kita seakan-akan kikuk untuk tampil di depan umum kak? Ingatan mudah saja hilang, tp beda dengan anggota tubuh kak. Bagaimana itu kak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Masa Depan Absurd?

Selayang Pandang

Nanti Jadi Apa?